Jumat, 11 Januari 2013

Terima kasih Allah

Alhamdulillah, di pagi hari Selasa 8 Januari 2013 Allah menambah nikmat dan karuniaNYA padaku. Bagaimana tidak? Setelah 1 tahun menunggu, alhamdulillah kini aku haid lagi.  

Bagiku, kejadian ini adalah hal yang sangat luar biasa. Tanpa kuasaNYA, ini tak akan pernah terjadi.

Beberapa tahun terakhir ini haidku emang ga teratur. Ga seperti siklus haid biasanya yang datang tiap sebulan sekali. Dulu pertama kali haid hingga kuliah sekitar semester 3-4 haidku masih teratur-teratur aja, tiap 1 bulan sekali. Barulah sekitar semester 4 haidku mulai ga teratur, kadang 2 bulan sekali, kadang 3 bulan sekali. Siklus yang ga teratur seperti ini berlangsung beberapa tahun, bahkan di tahun 2011 aku ga haid selama 8 bulan. Saat itu (sekitar akhir Desember 2011) aku memilih untuk pergi ke dokter kandungan dan berobat. Alhamdulillah, Allah mengijinkan aku haid. Hanya saja waktu itu haidku berlangsung selama 1 bulan penuh yaitu selama bulan Januari 2012. Tapi puji syukur padaNYA yang masih mengijinkan aku untuk haid saat itu.

Bulan depannya yaitu Februari 2012 aku berharap akan haid lagi, tapi Februari lewat gitu aja tanpa datang haid. Maret pun begitu. Hingga April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember, bahkan memasuki bulan Januari tahun berikutnya yaitu 2013 aku masih juga belum haid. Beberapa temen yang tahu hal ini nyaranin aku untuk berobat lagi ke dokter karena pengobatan waktu itu ga kulanjutin. Emang sih, waktu itu dokter pesen kalau seandainya bulan berikutnya aku haid diminta untuk balik lagi, begitupun sebaliknya kalau ternyata bulan berikutnya aku ga haid juga mesti balik lagi. Tapi aku ga pernah balik lagi ke dokter untuk berobat, bahkan  ketika temen-temenku nyaranin aku untuk ke dokter lagi. Entah kenapa aku sama sekali tak tergerak untuk ke dokter, kayak dikasih tahu kuping kanan lewat kuping kiri, hehehe. 

Tapi sebenernya jauh di lubuk hatiku yang paling dalem, aku sangat yakin kalau Allah menghendakiku untuk haid lagi maka ga ada yang ga mungkin.
Saat itu aku berpikir, kalau menurut orang-orang dengan pergi ke dokter dan mengkonsumsi obat yang diberikan akan membuatku bisa haid lagi, apalagi dengan pergi ke Allah yang menciptakan sang dokter?? Bukankah suatu kesembuhan setelah berobat ke dokter adalah juga atas ijin Allah? Saat itu aku bisa haid lagi juga atas ijin Allah, melalui sang dokter. Dan aku yakin, ada atau tidak adanya dokter, ada atau tidak adanya obat, kalau Allah menghendakiku untuk haid lagi maka aku akan haid lagi atas ijin dan ridhoNYA. Keyakinan itu lah yang membuatku bertahan dan terus melangkah. Aku memilih untuk menumpukan segala harapanku padaNYA. Kubawa harapanku untuk bisa haid lagi ke dalam doa. Lalu apa yang terjadi?? Hari-hariku berlalu tanpa haid. Hampir saja aku putus asa karena masih juga belum haid. Tapi aku kembali ingat akan kuasa Allah. Tidak ada yang tidak mungkin bagiNYA. Jangankan haid, burung-burung pun bisa Allah terbangkan tanpa ada yang menyangganya, laut yang terhampar luas, langit biru yang indah, sungai-sungai yang mengalir, dan seluruh alam semesta ini beserta isinya. Lalu apa yang membuatku harus ragu padaNYA???

“Aku bisa haid untuk pertama kalinya adalah atas ijinMU Ya Rabb, aku bisa haid secara teratur juga atas ijinMU. Ketika haidku tidak teratur itu juga adalah atas ijinMU, maka atas ijinMU juga lah aku akan bisa haid lagi. Atas ijinMU juga lah haidku akan teratur lagi. Ijinkanlah aku bisa haid lagi Ya Allah. Lancarkanlah haidku, ijinkanlah aku bisa haid lagi secara teratur setiap bulannya. Kalau memang Engkau menghendaki aku pergi ke dokter, berilah aku petunjuk dokter mana yang harus aku datangi. Tak ada satu dokter atau obat manapun yang akan membuatku haid lagi kecuali adalah atas ijinMU. Cukup bagiku Engkau Ya Allah, cukup bagiku Engkau. Tiada Tuhan selain Engkau. Hanya kepadaMU aku bertawakkal dan Engkaulah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang Agung”.

Kalau sebelumnya aku kurang intens berdoa dan memohon padaNYA untuk bisa haid lagi, maka saat itu aku putuskan untuk lebih sering membawa doaku setiap usai sholat, baik itu sholat wajib maupun sunnah.

“Kalau sebelumnya dalam sehari mungkin aku berdoa meminta bisa haid lagi hanya setelah sholat Dzuhur saja, atau setelah Maghrib saja, setelah Subuh saja, setelah Isya’ saja, setelah Dhuha saja, setelah Tahajjud saja, atau sehari dalam 2 atau 3 waktu saja setelah sholat, maka mulai sekarang aku harus selalu membawa doa itu ke dalam 7 waktu sholatku. Aku ga boleh meninggalkan doa itu. Aku harus selalu membawanya, kalau perlu aku bikin saja checklist untuk melihat apakah aku membawa doa itu atau tidak dalam 7 waktu sholatku setiap harinya”. Begitulah tekadku di awal tahun 2013. 

Aku merasa bahwa ini udah sangat urgent, 1 tahun aku ga haid. Maka aku pun melakukannya. Mulai untuk selalu membawa doa agar diijinkan haid lagi kedalam doa-doaku setiap setelah sholat wajib maupun sunnah. Berdoa 7x sehari, dengan isi doa yang sama. Maka apa yang terjadi??? Subhanallah, belum ada 1 minggu aku rutin membawa doa itu ke dalam 7 waktu sholatku, Allah sudah mengijinkan aku untuk bisa haid lagi. Belum ada 1 minggu. Bahkan aku belum sempat membuat checklist, hanya berdasarkan ingatan saja dan kemauan yang kuat agar selalu ingat untuk membawa doa itu. Kalau tidak salah hanya 4 sampai 5 hari setelah aku rutin membawa doa itu setelah sholat wajib 5 waktu ditambah setelah sholat Dhuha dan setelah Tahajjud. Subhanallah, Maha Suci Engkau. Alhamdulillah, puji syukur kupanjatkan padaMU Ya Rabb. Aku ga bisa mengungkapkan kebahagiaanku di pagi itu, tangis bahagia dan sujud syukurku pun turut mengiringi kebahagiaanku.

Akulah yang malas meminta padaMU Ya Rabb, aku lah yang tidak merutinkan permohonanku. Akulah yang merasa bosan untuk terus membawa doa itu setiap seusai sholat wajib maupun sunnah. Akulah yang meninggalkan permohonan itu, bukan Engkau. Ampunilah aku. Dan berikanlah selalu aku petunjukMU.

Akulah yang tak sabar dalam setiap doaku Ya Rabb, aku lah yang selalu datang dan pergi dariMU sesuka hatiku. Sedangkan Engkau selalu setia menemaniku dalam setiap keadaanku. Ampunilah aku. Dan berikanlah selalu aku petunjukMU.

Terima kasih Ya Allah atas segala karuniaMU yang tak terhingga padaku dan keluargaku hingga detik ini. Terima kasih atas segala rahmat dan kasih sayang yang selalu Engkau curahkan pada kami. Tidak pernah ada yang sia-sia dalam setiap peristiwa yang Engkau berikan dalam keluarga kami, segala permasalahan, segala kesulitan maupun kemudahan, segala tangis maupun tawa, semuanya membawa hikmahnya masing-masing, yang sesungguhnya adalah anugerah dariMU.
Semoga Engkau berkenan mengijinkan haid ini untuk bisa istiqomah datang setiap 1 bulan sekali, dengan jumlah hari dan volume haid yang normal, amiin.
Semoga Engkau juga mengistiqomahkanku dalam berdoa dan beribadah kepadaMU, mengistiqomahkanku dalam keimanan ini. Karena Engkau lah Sang Maha Pembolak Balik hati manusia, tak ada yang pernah tahu esok kami akan seperti apa, bahkan 1 menit kemudian pun tak akan pernah ada yang tahu. Kumohon, tetapkanlah imanku kepadaMU, berilah aku petunjukMU, dan bimbinglah aku selalu di jalanMU, amiin. 

Rabu, 01 Agustus 2012

Diam-diam

Pertama kali kulihat dirimu, sama sekali tak ada ketertarikan, biasa saja layaknya bertemu dengan orang-orang. Bahkan aku sedikit tak senang melihatmu yang terkesan sedikit angkuh. Tapi entah sejak kapan hati ini berubah, aku sama sekali tak menyadarinya dan tak bisa mengingatnya.

Apakah kau tahu, jantung ini berdegup kencang saat kulihat dirimu berjalan mendekat ke arahku. Meski bukan aku yang kautuju, tapi tetap saja hati ini tak karuan bercampur senang, ingin kusapa dirimu namun bibir ini membisu, ingin kulihat wajahmu tapi tak berani. Aku hanya bisa terdiam dan acuh seolah sama sekali tak peduli dengan keberadaanmu. Aku menunggu sepatah kata terucap dari bibirmu, namun wajah ini terlanjur terlampau dingin, tak ada ramah-ramahnya sama sekali. Lantas bagaimana mungkin kau akan menyapaku dengan mukaku yang seperti itu??? Ya, kesempatan itu berlalu begitu saja, aku hanya duduk terdiam dan pura-pura asik menunggu urusanku, sama sekali tak berani menatapmu yang sedang berdiri di sebelah sana menyelesaikan urusanmu. Hingga tak lagi kutemukan dirimu di situ, aku baru bisa bernafas lega, sekaligus kecewa karena mendapati diriku melewatkan kesempatan untuk sedikit lebih mencair denganmu dan membiarkanmu berlalu begitu saja tanpa sepatah kata. 

Apakah kau tahu, betapa ingin kusapa dirimu tiap kali kita bertemu, tapi bibir ini seakan tak mampu berkata-kata. Mata ini seakan tak berani menatapmu. Hanya pasrah membiarkanmu berlalu dari hadapanku.

Apakah kau tahu, saat aku berjalan di depanmu, betapa ingin aku menunggumu untuk berjalan bersama dan bertegur sapa. Tapi kaki ini seolah tak mampu memperlambat langkahku. Aku justru segera berlari menjauh. Seperti tak ingin kau melihatku.

Apakah kau tahu, saat kau berjalan di depanku, betapa ingin aku berjalan disampingmu, tapi tubuh ini seolah tak sanggup menghampirimu. Kaki ini seolah tak mampu berjalan lebih cepat untuk mengejarmu. Hingga engkaupun berlalu.

Kuberjalan di belakangmu, kupandangi dirimu dari belakang seraya memanggilmu dalam hati, berkata lirih, berharap kau akan memperlambat langkahmu dan menungguku. Seketika semua rasa berkecamuk dalam hati. Sedih, bahagia, kagum, haru, getir dan sesak bercampur menjadi satu, saat kusadari kau telah menghilang dari pandanganku. Ya, kau berlalu begitu saja.

Apakah kau tahu, betapa ingin kutersenyum kepadamu dan mengucapkan salam dengan ramah, mengobrol hangat denganmu ditemani secangkir teh atau kopi. Menatapmu dari dekat, sangat dekat. Dan kita larut dalam asiknya obrolan. Sungguh itu hanya ada dalam lamunanku, karena diri ini tak cukup punya keberanian untuk bisa dekat denganmu. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku, aku justru menghindar dan bersembunyi darimu. Seakan puas melihatmu dari jauh. Padahal hati ini sangat ingin bersamamu dan mengenalmu lebih dekat.

Apakah kau tahu, betapa senangnya hati ini saat kau ucapkan kata “hai” kepadaku. Saat itu aku hanya membalas dengan senyuman kecil, aku tak sanggup berkata-kata. Aku terlampau bahagia mendengar ucapanmu. Sebuah kata yang simple itu ternyata sangat berarti buatku. 

Disaat aku tak bisa melihat dan menemukanmu dalam ruangan itu, terus kucari dirimu di setiap sudut, berharap akan kutemukan dirimu dalam pandanganku. Kuberdoa dalam hati, memohon padaNYA untuk mengijinkanku melihatmu. Puji Tuhan, seketika setelah aku berdoa dan membalikkan badan aku melihatmu samar-samar dari kejauhan dan berjalan ke arahku, dan kau pun tersenyum kepadaku. Subhanallah, aku pun sangat senang. Tapi aku kurang begitu merespon karena aku tak bisa melihatmu dengan jelas, aku masih mencoba memastikan kalau yang tersenyum itu adalah benar-benar dirimu, aku takut salah orang karena saat itu aku sedang tak mengenakan kacamata.

Apakah kau tahu, berbunganya hati ini saat kubuka pintu dan engkau lah yang pertama kali ku lihat di pagi itu. Kudapati kita sama-sama sedang membuka pintu masing-masing di waktu yang bersamaan. Subhanallah, betapa gembiranya hati ini. Tapi aku tak ingin menunjukkannya padamu, aku tak mau kau tahu kalau hati ini sedang senang karenamu, aku pun memasang muka datar dan acuh. Sama sekali tak menyapa apalagi melihatmu. Hanya bisa segera berlalu dari hadapanmu.

Akhirnya untuk pertama dan mungkin terakhir kalinya kau ulurkan tanganmu untuk berjabat tangan denganku. Akupun menyambut, ingin kugenggam tangan itu lebih lama, tapi tak mungkin, aku tak mau kau menangkap sinyal perasaanku. Segera kulepas dan tak peduli.

Saat kuberanikan diri menghubungimu untuk mengucapkan maaf atas rasa bersalahku akan suatu hal, puji Tuhan, kau pun membalasnya. Tapi terakhir aku tak berani lagi mengajakmu ngobrol lebih jauh karena dari balasanmu aku menangkap sinyal bahwa seolah-olah kau ingin mengatakan kalau kau tak mau ngobrol denganku. Aku pun segera mengakhirinya dengan hanya mengirimkan simbol smile.

Aku ingin kau tahu perasaanku, tapi aku juga takut kau akan mengetahui perasaanku. Karena sejak awal kita bertemu, aku tahu dalam hidupmu sudah ada seseorang yang kau pilih untuk mendampingimu menapaki hari-harimu ke depan. Aku hanya bisa menyimpan perasaan ini dan menikmatinya. Bersyukur kepada Tuhan karena masih memberiku kesempatan untuk menyukai seseorang. Semoga Tuhan senantiasa melindungi dan menyertaimu selalu. Salamku untukmu :) :)

Selasa, 31 Juli 2012

Merenungkan kembali

Tiba-tiba pikiran ini melayang menuju ke masa yang telah lalu. Teringat saat-saat aku  masih mengenakan seragam putih-merah, putih-biru dan putih-abu-abu. Dulu aku tak pernah merasa bahwa rutinitasku yang dulu itu mungkin saja membosankan, dan tak pernah merasa kasian dengan diriku, aku menjalani pendidikan formalku dengan enjoy. Dengan senang hati aku belajar dan menjalani hari-hariku tanpa pernah berpikir untuk apa sebenarnya semua itu aku lakukan? Apakah aku hanya menjalani semuanya secara formalitas layaknya kehidupan seorang manusia pada umumnya atau untuk apa? Untuk tujuan apa sebenarnya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu justru ada dibenakku sekarang, entah ini terlambat atau tidak, yang jelas aku bersyukur Tuhan masih memberiku kesempatan untuk memikirkan dan mencari jawabannya.

Masih teringat juga bahwa setelah masa-masa penggunaan seragam itu selesai tiba waktunya aku diberi kebebasan dalam menentukan pakaianku sendiri, dan belajar selama 4 tahun. Sekali lagi aku masih hanya menjalani formalitas layaknya kehidupan manusia pada umumnya. Setelah lulus pun aku mencari pekerjaan, masih sama dengan kebiasaan mayoritas orang, hingga pada akhirnya aku mendapatkan pekerjaan dan bekerja. Dalam menjalani hari-hariku inilah tiba-tiba aku terus berpikir untuk apa sebenarnya aku melakukan semua ini? Untuk apa? Aku seperti kehilangan arah dan berusaha mencari petunjuk sekiranya aku bisa menemukan arah kemana aku akan melangkah dan tahu pasti sedang menuju kemana. Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk.

Mayoritas manusia menjalani beberapa hal yang sama seperti lahir, makan, tumbuh, sekolah atau menjalani pendidikan formal, mencari pekerjaan, bekerja, menikah, punya anak, mendidik dan membesarkan anak, dan meninggal (ini bukan urutan, bisa acak). Benarkah harus selamanya seperti itu? Benarkah kita harus selalu menuntut ilmu melalui pendidikan formal, SD, SMP, SMA, dan kuliah? Lalu bekerja pada orang lain ataupun negara? Benarkah harus selalu sama dengan yang banyak? Benarkah demikian adanya? Aku rasa tidak, ya, inilah jawabanku, meskipun sampai saat ini ternyata aku juga masih berada pada situasi yang sama dengan kebiasaan mayoritas orang. Semua kebiasaan-kebiasaan itu, yang dengan mudahnya orang-orang mengikuti seperti sebuah keharusan tanpa perlu ditinjau ulang. Ya, ternyata aku masih sama. Tapi tak mengapa karena kupikir ini bukan soal sama ataupun berbeda dengan mayoritas orang. Menurutku, tak masalah apakah aku sama ataupun berbeda dengan mayoritas orang, tapi setidaknya aku harus tahu apa yang sebenarnya aku lakukan dan untuk apa. Dan apakah aku tahu? Jawabannya “belum”, ya aku belum tahu, tapi belum bukan berarti tidak, aku yakin akan ada saatnya dimana aku pasti mengetahuinya.

Kembali ke masalah menuntut ilmu melalui pendidikan formal, aku sendiri 2 tahun TK, 6 tahun SD, 3 tahun SMP, 3 tahun SMA, 4 tahun kuliah S1, kalau ditotal semuanya 18 tahun. Ya, 18 tahun. Benarkah semua itu hanya bisa aku peroleh setelah aku menggunakan waktuku selama 18 tahun untuk belajar di sekolah (pendidikan formal) atau sebenarnya ada metode lain yang bisa digunakan untuk mendapatkan semua ilmu yang diajarkan di sekolah bahkan ilmu-ilmu lain yang belum dan tak pernah diajarkan tanpa harus menghabiskan waktu sebanyak itu, 18 tahun menurutku bukan waktu yang singkat. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh manusia-manusia yang telah menuntut ilmu melalui pendidikan formal selama 18 tahun, kurang atau bahkan lebih? Menjawab pertanyaan ini pastinya ada beraneka macam jawaban yang kalau ditulis satu-satu mungkin bisa beratus-ratus halaman. Singkat saja, aku akan coba mengurai beberapa pengamatanku, tapi aku tidak akan mengurai semuanya, hanya beberapa saja sebagai contoh. Aku yakin, sebagian ada yang telah banyak berbagi dengan sesama entah itu berbagi ilmu, berbagi rejeki, berbagi kebaikan, berbagi kesenangan, berbagi lapangan kerja, dan lain sebagainya. Mereka memproduksi sebesar-besarnya, mengkonsumsi sekedarnya, lalu mendistribusikan sebesar-besarnya kepada sesama. Alangkah menyenangkan dan membahagiakan. Tapi aku juga yakin bahwa ada juga yang setelah 18 tahun menuntut ilmu melalui pendidikan formal, kurang atau bahkan lebih dari 18 tahun, akhirnya memilih untuk menggunakan waktunya seharian di jalan dan di kantor, berkutat dengan pekerjaannya, sampai di rumah sudah larut malam, melihat dan berkumpul sejenak dengan isteri atau suami dan anak-anak, tidur dan berulang lagi pada hari-hari berikutnya, sesekali berkumpul keluarga di akhir pekan, tapi sesekali juga teruuuss sibuk di luar kota, meninggalkan keluarga, dan bersama dengan pekerjaan yang tak akan pernah ada habisnya. Hampir sebagian besar hidupnya adalah untuk pekerjaannya, meskipun tetap ada waktu untuk keluarga, tapi entah seberapa banyak, sebandingkah dengan waktu yang ia habiskan untuk pekerjaannya, lebih kah atau justru kurang?

Ada juga yang tidak sampai 18 tahun menuntut ilmu melalui pendidikan formal, atau justru tak pernah merasakan pendidikan formal dan hanya belajar melalui universitas kehidupan yang sebenarnya, tapi mereka justru memutuskan untuk menentukan nasibnya sendiri, bahkan akhirnya bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain, lalu hidupnya didedikasikan untuk berbagi dengan sesama. Sama seperti yang tadi, memproduksi sebesar-besarnya, mengkonsumsi sekedarnya, dan mendistribusikan sebesar-besarnya kepada sesama. Aku rasa, apapun cara menuntut ilmu yang dipilihnya tak jadi soal, pada akhirnya mereka punya tujuan yang sama dalam kebaikan yaitu berbagi dengan sesama. Justru orang-orang yang menuntut ilmu melalui pendidikan formal dan yang menuntut ilmu berdasarkan pengalaman hidup dan praktek di lapangan bisa jadi akan menjadi partner yang sangat baik dan saling melengkapi satu sama lain.

Di sisi lain, ada yang setelah sekian lama menuntut ilmu melalui pendidikan formal bahkan dengan berbagai macam gelar di depan maupun di belakang namanya, akhirnya mendedikasikan hidupnya untuk negara dan sesamanya, untuk hal-hal yang positif, ku pikir ini juga bagus. Tapi ada juga yang justru merasa bahwa dirinya dan kalangannya adalah kalangan yang eksklusif, kalangan yang pandai dan intelek, bicaranya dengan bahasa-bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang pintar (katanya) dan menganggap orang-orang yang tak berpendidikan itu adalah lebih rendah daripada orang-orang yang berpendidikan. Aku tidak tahu kategori berpendidikan yang dimaksud itu seperti apa, apakah hanya sebatas gelar banyak yang diperoleh baik dari dalam maupun luar negeri atau ilmu yang bermanfaat, aku tidak tahu.

Ada juga yang hanya terus memikirkan kepentingannya sendiri, mencari pundi-pundi untuk kesejahteraannya sendiri, kadang memikirkan orang lain tapi kadang juga sama sekali tak peduli dengan orang lain. Kadang juga menghalalkan segala cara. Mengambil sesuatu yang bukan haknya, berlaku sewenang-sewenang ketika diberi amanah tertentu. Mengaku berpendidikan, tapi kadang perilakunya tak menunjukkan. Selalu ingin dihormati dan harus selalu tunduk padanya dengan kekuasaannya, padahal kekuasaan itu adalah amanah. Selalu marah-marah, dan memperlakukan orang lain seperti budak yang tak perlu dihargai, bahkan seorang budak sekalipun menurutku sangat perlu untuk dihormati dan dihargai karena kita semua adalah sama-sama manusia. Menurutku, pangkat dan jabatan seseorang itu adalah amanah, bukan suatu alat yang bisa kita gunakan untuk berperilaku sewenang-wenang terhadap orang lain, terlebih kepada orang-orang yang dianggapnya lebih rendah dari dirinya. Sekalipun kita adalah orang yang menggajinya, memberikan dia makan dan pekerjaan, sama sekali kita tidak pantas memperlakukan orang lain sesuka hati kita, apalagi kalau kita sama sekali tidak pernah menggajinya dan justru sama-sama memperoleh penghasilan dari sumber yang sama, sungguh sangat tak pantas apabila kita tak pernah menghormati orang-orang yang kita anggap lebih rendah dari kita tapi justru sebenarnya mereka lah yang telah membantu urusan kita, wahai para pemegang amanah, mohon ingatlah hal ini dengan baik, kita semua sama yaitu sama-sama manusia, dan kita hidup di bumi yang sama. Menurutku, tak ada yang lebih tinggi ataupun lebih rendah, kita semua adalah partner yang sejajar.

Itulah, berbagai macam, semuanya ada di dunia yang luas ini. Masih banyak, tapi aku tidak akan mengurainya. Semoga kita menjadi manusia yang bijak dalam menentukan sikap dan langkah kita. Terlepas bahwa kita memang manusia biasa yang punya berjuta hasrat dan berbagai macam ego yang ada dalam diri kita masing-masing.

Sabtu, 21 Juli 2012

Jodohku

Aku tak tahu dimana kamu berada
Dan aku juga tak tahu kamu siapa
Orang disekitarku kah
Atau bukan
Sudah kenal kah kita
Atau belum

Jodohku
Dimanapun kamu berada
Dan siapapun kamu
Aku disini menunggumu
Aku yakin Tuhan akan mempertemukan kita
Tepat pada waktuNYA
Yang  telah dirancang sedemikian rupa
Untuk kita

Aku yakin DIA akan membukakan pintu hatiku untukmu
Dan pintu hatimu untukku
Aku yakin pada saatnya nanti
Cepat ataupun lambat
Kita akan dipersatukan dalam sebuah ikatan yang diridhoiNYA

Kini
25 tahun sudah aku menunggu
Berapa lama kah kau menunggu?
Mungkin sama
Mungkin kurang
Mungkin juga lebih
Berapa lama pun itu tak jadi soal buatku
Aku tetap bahagia mendapatkanmu

Jodohku
Sampai ketemu
Di waktu dan kesempatan yang tak pernah kita sangka
Di tempat yang tak pernah kita duga

Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan kasih dan sayangNYA padamu
Melindungi dan menyertaimu selalu

Aku menunggumu :) :) :)

Rabu, 04 April 2012

Tindakan Nyata


“Aku tak bisa menulis“ kataku dalam hati.  Semakin kuat aku bilang tak bisa menulis, makin tak bisa juga aku menulis. Semuanya blank, ga tau apa yang mau ditulis. Padahal sebelumnya banyak banget isi kepalaku tentang apa yang mau kutulis, tapi begitu kubuka laptop dan bersiap nulis, smuanya mampet, terlebih saat aku bilang aku ga bisa nulis. Akhirnya setelah aku ga tau apa yang harus kutulis aku nekat ngetik apapun, bahkan kata-kata “tak bisa menulis” diawal tulisan ini pun tetap aku ketik. Ya, aku tuangin aja, asal ketik, asal bunyi, cuman itu yang aku pikirin saat itu, “mulai menulis”.
Ketika aku mulai mengetik, tiba-tiba saja aku berpikir, apa seperti ini juga kehidupan ya? Ketika kita hanya berpikir dan berpikir tanpa segera melakukan sesuatu maka yang terjadi adalah kita tak jadi melakukan apa-apa, karna kita hanya hidup di alam ide, smuanya hanya ada di kepala lalu hilang begitu saja. Sama seperti saat aku ingin menulis, banyak banget di otakku tentang apa yang mau ku tulis, tentang persamaan gender, tentang kebebasan seorang manusia, tentang stereotip masyarakat akan banyak hal, tentang pedagang asongan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Beberapa udah aku konsep akan kayak gimana, tapi smua ilang gitu aja karna aku ga segera melakukan tindakan nyata. Giliran pas udah mau diketik tiba-tiba aku berpikir “tuh kan lupa, ga segera ditulis sih, atau dipaksa sih jadinya ga bisa deh, harusnya nulis itu ngalir aja, ga usah dipikirin kalo mau nulis, ngalir aja saat ada ide untuk nulis. Alhasil aku ga jadi nulis. Berbeda dengan saat kuputuskan untuk menulis, meskipun aku ga ada ide sama sekali mau nulis apa, tapi satu hal dikepalaku “yang penting mulai dulu, apapun hasil tulisannya ya sudahlah, yang penting tulis aja dulu. Ya... sepintas memang seperti ga ada tujuan, tapi kalo diliat lebih teliti kata-kata diatas juga punya tujuan yaitu “memulai menulis”. Saat aku memutuskan untuk memulai sesuatu meskipun sesuatu itu belum jelas arahnya, belum jelas konsep/perencanaannya, dan belum jelas lain-lainnya tapi ada satu hal yang ‘pasti’ saat kuputuskan untuk memulai sesuatu, yaitu “aku punya hasil” yaaa....hasil dari sesuatu yang aku mulai itu. Terlepas hasil itu baik atau engga, memuaskan atau engga, ke depan aku masih bisa memperbaikinya. Seperti tulisan ini, entah tulisan ini bagus atau engga, ada pesennya atau engga, menarik untuk dibaca atau engga, dan lain sebagainya, tapi yang pasti tulisan ini ga bakal ada kalo tadi aku putuskan untuk tidak memulai mengetik. Berani taruhan berapa??? Hihihihi :D

Dan.....tretetet teteeeettt... (niup terompet dulu)
Satu hal yang ingin kukatakan adalah saat aku ingin melakukan sesuatu ataupun aku punya sebuah impian maka aku harus memulainya, dengan melakukan sesuatu yang konkret, bukan hanya sebatas pemikiran, ide, pendapat (apa bedanya ide sama pendapat ya? :D) ataupun keinginan, tapi sesuatu yang benar-benar nyata.
Sebenernya kata-kata ini lebih tepat kalo dibilang untuk memotivasi diriku sendiri sih, heheheheheehhe....tapi kalo diluar sana ada orang yang ikut termotivasi juga ya syukur alhamdulillah  :D

Memulai sesuatu dengan perencanaan dan persiapan yang matang sebelumnya mungkin saja bisa menghasilkan sesuatu yang baik dan sempurna (padahal kata orang ga ada yang sempurna, *hahhh...kata orang? :D), tapi saat kita buntu dan ga tau harus melakukan apa maka memulai hal tersebut dengan tindakan nyata sudah pasti akan menghasilkan sesuatu yang berbeda, sungguh di luar dugaan, sensasinya luaaarrrr biasa. Ga percaya?? (Bagus kalo kamu ga percaya, emang kita ga harus selalu percaya apa kata orang sebelum kita buktiin sendiri :D)
“Bukan konsep, perencanaan, dan persiapan yang matang yang menentukan, tapi memulainya dengan tindakan yang nyata”.
Konsep dan persiapan yang matang tak akan berarti apa-apa ketika kita tak pernah memulai dan mewujudkannya dalam tindakan nyata.
Aku ga akan pernah tau teori ini bener ato ga ketika aku hanya membaca dan membaca tanpa pernah melakukan sesuatu. Bahkan teori yang sangat hebat sehebat apapun itu, paling ampuh, paling top, paling jitu, paling luar biasa, paling tokcer, paling super ato apa lah itu namanya, ga akan pernah bisa menghasilkan sesuatu ketika aku hanya diam, lesu, dan sibuk berpikir “bener ga ya aku bisa?” tanpa melakukan sesuatu yang nyata. Sepakat ga? (harus sepakat, kalo ga dosa loh, wkwkwkkwkwkwk.....becanda *simbol dancing* :D).  
Tak ada keharusan apapun atas perkataan orang lain, semua adalah referensi yang perlu disaring dan diolah, dan keputusan akhir selalu ada di tangan kita sendiri.

Kamis, 08 Maret 2012

Kita 'Manusia'


Bukan karena aku perempuan
atau karena kamu lelaki
Tapi....karena kita ‘Manusia’

Sesuatu yang tersembunyi


Ini bukan untuk ditunjukkan
Ini bukan untuk diceritakan
Ini.....sebuah tanggung jawab

Tak perlu banyak bicara
Tak perlu mencari muka
Lakukan saja

Ini bukan untuk mendapat pujian
Ini bukan untuk dibanggakan
Ini....sebuah tanggung jawab