Selasa, 31 Juli 2012

Merenungkan kembali

Tiba-tiba pikiran ini melayang menuju ke masa yang telah lalu. Teringat saat-saat aku  masih mengenakan seragam putih-merah, putih-biru dan putih-abu-abu. Dulu aku tak pernah merasa bahwa rutinitasku yang dulu itu mungkin saja membosankan, dan tak pernah merasa kasian dengan diriku, aku menjalani pendidikan formalku dengan enjoy. Dengan senang hati aku belajar dan menjalani hari-hariku tanpa pernah berpikir untuk apa sebenarnya semua itu aku lakukan? Apakah aku hanya menjalani semuanya secara formalitas layaknya kehidupan seorang manusia pada umumnya atau untuk apa? Untuk tujuan apa sebenarnya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu justru ada dibenakku sekarang, entah ini terlambat atau tidak, yang jelas aku bersyukur Tuhan masih memberiku kesempatan untuk memikirkan dan mencari jawabannya.

Masih teringat juga bahwa setelah masa-masa penggunaan seragam itu selesai tiba waktunya aku diberi kebebasan dalam menentukan pakaianku sendiri, dan belajar selama 4 tahun. Sekali lagi aku masih hanya menjalani formalitas layaknya kehidupan manusia pada umumnya. Setelah lulus pun aku mencari pekerjaan, masih sama dengan kebiasaan mayoritas orang, hingga pada akhirnya aku mendapatkan pekerjaan dan bekerja. Dalam menjalani hari-hariku inilah tiba-tiba aku terus berpikir untuk apa sebenarnya aku melakukan semua ini? Untuk apa? Aku seperti kehilangan arah dan berusaha mencari petunjuk sekiranya aku bisa menemukan arah kemana aku akan melangkah dan tahu pasti sedang menuju kemana. Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk.

Mayoritas manusia menjalani beberapa hal yang sama seperti lahir, makan, tumbuh, sekolah atau menjalani pendidikan formal, mencari pekerjaan, bekerja, menikah, punya anak, mendidik dan membesarkan anak, dan meninggal (ini bukan urutan, bisa acak). Benarkah harus selamanya seperti itu? Benarkah kita harus selalu menuntut ilmu melalui pendidikan formal, SD, SMP, SMA, dan kuliah? Lalu bekerja pada orang lain ataupun negara? Benarkah harus selalu sama dengan yang banyak? Benarkah demikian adanya? Aku rasa tidak, ya, inilah jawabanku, meskipun sampai saat ini ternyata aku juga masih berada pada situasi yang sama dengan kebiasaan mayoritas orang. Semua kebiasaan-kebiasaan itu, yang dengan mudahnya orang-orang mengikuti seperti sebuah keharusan tanpa perlu ditinjau ulang. Ya, ternyata aku masih sama. Tapi tak mengapa karena kupikir ini bukan soal sama ataupun berbeda dengan mayoritas orang. Menurutku, tak masalah apakah aku sama ataupun berbeda dengan mayoritas orang, tapi setidaknya aku harus tahu apa yang sebenarnya aku lakukan dan untuk apa. Dan apakah aku tahu? Jawabannya “belum”, ya aku belum tahu, tapi belum bukan berarti tidak, aku yakin akan ada saatnya dimana aku pasti mengetahuinya.

Kembali ke masalah menuntut ilmu melalui pendidikan formal, aku sendiri 2 tahun TK, 6 tahun SD, 3 tahun SMP, 3 tahun SMA, 4 tahun kuliah S1, kalau ditotal semuanya 18 tahun. Ya, 18 tahun. Benarkah semua itu hanya bisa aku peroleh setelah aku menggunakan waktuku selama 18 tahun untuk belajar di sekolah (pendidikan formal) atau sebenarnya ada metode lain yang bisa digunakan untuk mendapatkan semua ilmu yang diajarkan di sekolah bahkan ilmu-ilmu lain yang belum dan tak pernah diajarkan tanpa harus menghabiskan waktu sebanyak itu, 18 tahun menurutku bukan waktu yang singkat. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh manusia-manusia yang telah menuntut ilmu melalui pendidikan formal selama 18 tahun, kurang atau bahkan lebih? Menjawab pertanyaan ini pastinya ada beraneka macam jawaban yang kalau ditulis satu-satu mungkin bisa beratus-ratus halaman. Singkat saja, aku akan coba mengurai beberapa pengamatanku, tapi aku tidak akan mengurai semuanya, hanya beberapa saja sebagai contoh. Aku yakin, sebagian ada yang telah banyak berbagi dengan sesama entah itu berbagi ilmu, berbagi rejeki, berbagi kebaikan, berbagi kesenangan, berbagi lapangan kerja, dan lain sebagainya. Mereka memproduksi sebesar-besarnya, mengkonsumsi sekedarnya, lalu mendistribusikan sebesar-besarnya kepada sesama. Alangkah menyenangkan dan membahagiakan. Tapi aku juga yakin bahwa ada juga yang setelah 18 tahun menuntut ilmu melalui pendidikan formal, kurang atau bahkan lebih dari 18 tahun, akhirnya memilih untuk menggunakan waktunya seharian di jalan dan di kantor, berkutat dengan pekerjaannya, sampai di rumah sudah larut malam, melihat dan berkumpul sejenak dengan isteri atau suami dan anak-anak, tidur dan berulang lagi pada hari-hari berikutnya, sesekali berkumpul keluarga di akhir pekan, tapi sesekali juga teruuuss sibuk di luar kota, meninggalkan keluarga, dan bersama dengan pekerjaan yang tak akan pernah ada habisnya. Hampir sebagian besar hidupnya adalah untuk pekerjaannya, meskipun tetap ada waktu untuk keluarga, tapi entah seberapa banyak, sebandingkah dengan waktu yang ia habiskan untuk pekerjaannya, lebih kah atau justru kurang?

Ada juga yang tidak sampai 18 tahun menuntut ilmu melalui pendidikan formal, atau justru tak pernah merasakan pendidikan formal dan hanya belajar melalui universitas kehidupan yang sebenarnya, tapi mereka justru memutuskan untuk menentukan nasibnya sendiri, bahkan akhirnya bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain, lalu hidupnya didedikasikan untuk berbagi dengan sesama. Sama seperti yang tadi, memproduksi sebesar-besarnya, mengkonsumsi sekedarnya, dan mendistribusikan sebesar-besarnya kepada sesama. Aku rasa, apapun cara menuntut ilmu yang dipilihnya tak jadi soal, pada akhirnya mereka punya tujuan yang sama dalam kebaikan yaitu berbagi dengan sesama. Justru orang-orang yang menuntut ilmu melalui pendidikan formal dan yang menuntut ilmu berdasarkan pengalaman hidup dan praktek di lapangan bisa jadi akan menjadi partner yang sangat baik dan saling melengkapi satu sama lain.

Di sisi lain, ada yang setelah sekian lama menuntut ilmu melalui pendidikan formal bahkan dengan berbagai macam gelar di depan maupun di belakang namanya, akhirnya mendedikasikan hidupnya untuk negara dan sesamanya, untuk hal-hal yang positif, ku pikir ini juga bagus. Tapi ada juga yang justru merasa bahwa dirinya dan kalangannya adalah kalangan yang eksklusif, kalangan yang pandai dan intelek, bicaranya dengan bahasa-bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang pintar (katanya) dan menganggap orang-orang yang tak berpendidikan itu adalah lebih rendah daripada orang-orang yang berpendidikan. Aku tidak tahu kategori berpendidikan yang dimaksud itu seperti apa, apakah hanya sebatas gelar banyak yang diperoleh baik dari dalam maupun luar negeri atau ilmu yang bermanfaat, aku tidak tahu.

Ada juga yang hanya terus memikirkan kepentingannya sendiri, mencari pundi-pundi untuk kesejahteraannya sendiri, kadang memikirkan orang lain tapi kadang juga sama sekali tak peduli dengan orang lain. Kadang juga menghalalkan segala cara. Mengambil sesuatu yang bukan haknya, berlaku sewenang-sewenang ketika diberi amanah tertentu. Mengaku berpendidikan, tapi kadang perilakunya tak menunjukkan. Selalu ingin dihormati dan harus selalu tunduk padanya dengan kekuasaannya, padahal kekuasaan itu adalah amanah. Selalu marah-marah, dan memperlakukan orang lain seperti budak yang tak perlu dihargai, bahkan seorang budak sekalipun menurutku sangat perlu untuk dihormati dan dihargai karena kita semua adalah sama-sama manusia. Menurutku, pangkat dan jabatan seseorang itu adalah amanah, bukan suatu alat yang bisa kita gunakan untuk berperilaku sewenang-wenang terhadap orang lain, terlebih kepada orang-orang yang dianggapnya lebih rendah dari dirinya. Sekalipun kita adalah orang yang menggajinya, memberikan dia makan dan pekerjaan, sama sekali kita tidak pantas memperlakukan orang lain sesuka hati kita, apalagi kalau kita sama sekali tidak pernah menggajinya dan justru sama-sama memperoleh penghasilan dari sumber yang sama, sungguh sangat tak pantas apabila kita tak pernah menghormati orang-orang yang kita anggap lebih rendah dari kita tapi justru sebenarnya mereka lah yang telah membantu urusan kita, wahai para pemegang amanah, mohon ingatlah hal ini dengan baik, kita semua sama yaitu sama-sama manusia, dan kita hidup di bumi yang sama. Menurutku, tak ada yang lebih tinggi ataupun lebih rendah, kita semua adalah partner yang sejajar.

Itulah, berbagai macam, semuanya ada di dunia yang luas ini. Masih banyak, tapi aku tidak akan mengurainya. Semoga kita menjadi manusia yang bijak dalam menentukan sikap dan langkah kita. Terlepas bahwa kita memang manusia biasa yang punya berjuta hasrat dan berbagai macam ego yang ada dalam diri kita masing-masing.

1 komentar: