Rabu, 01 Agustus 2012

Diam-diam

Pertama kali kulihat dirimu, sama sekali tak ada ketertarikan, biasa saja layaknya bertemu dengan orang-orang. Bahkan aku sedikit tak senang melihatmu yang terkesan sedikit angkuh. Tapi entah sejak kapan hati ini berubah, aku sama sekali tak menyadarinya dan tak bisa mengingatnya.

Apakah kau tahu, jantung ini berdegup kencang saat kulihat dirimu berjalan mendekat ke arahku. Meski bukan aku yang kautuju, tapi tetap saja hati ini tak karuan bercampur senang, ingin kusapa dirimu namun bibir ini membisu, ingin kulihat wajahmu tapi tak berani. Aku hanya bisa terdiam dan acuh seolah sama sekali tak peduli dengan keberadaanmu. Aku menunggu sepatah kata terucap dari bibirmu, namun wajah ini terlanjur terlampau dingin, tak ada ramah-ramahnya sama sekali. Lantas bagaimana mungkin kau akan menyapaku dengan mukaku yang seperti itu??? Ya, kesempatan itu berlalu begitu saja, aku hanya duduk terdiam dan pura-pura asik menunggu urusanku, sama sekali tak berani menatapmu yang sedang berdiri di sebelah sana menyelesaikan urusanmu. Hingga tak lagi kutemukan dirimu di situ, aku baru bisa bernafas lega, sekaligus kecewa karena mendapati diriku melewatkan kesempatan untuk sedikit lebih mencair denganmu dan membiarkanmu berlalu begitu saja tanpa sepatah kata. 

Apakah kau tahu, betapa ingin kusapa dirimu tiap kali kita bertemu, tapi bibir ini seakan tak mampu berkata-kata. Mata ini seakan tak berani menatapmu. Hanya pasrah membiarkanmu berlalu dari hadapanku.

Apakah kau tahu, saat aku berjalan di depanmu, betapa ingin aku menunggumu untuk berjalan bersama dan bertegur sapa. Tapi kaki ini seolah tak mampu memperlambat langkahku. Aku justru segera berlari menjauh. Seperti tak ingin kau melihatku.

Apakah kau tahu, saat kau berjalan di depanku, betapa ingin aku berjalan disampingmu, tapi tubuh ini seolah tak sanggup menghampirimu. Kaki ini seolah tak mampu berjalan lebih cepat untuk mengejarmu. Hingga engkaupun berlalu.

Kuberjalan di belakangmu, kupandangi dirimu dari belakang seraya memanggilmu dalam hati, berkata lirih, berharap kau akan memperlambat langkahmu dan menungguku. Seketika semua rasa berkecamuk dalam hati. Sedih, bahagia, kagum, haru, getir dan sesak bercampur menjadi satu, saat kusadari kau telah menghilang dari pandanganku. Ya, kau berlalu begitu saja.

Apakah kau tahu, betapa ingin kutersenyum kepadamu dan mengucapkan salam dengan ramah, mengobrol hangat denganmu ditemani secangkir teh atau kopi. Menatapmu dari dekat, sangat dekat. Dan kita larut dalam asiknya obrolan. Sungguh itu hanya ada dalam lamunanku, karena diri ini tak cukup punya keberanian untuk bisa dekat denganmu. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku, aku justru menghindar dan bersembunyi darimu. Seakan puas melihatmu dari jauh. Padahal hati ini sangat ingin bersamamu dan mengenalmu lebih dekat.

Apakah kau tahu, betapa senangnya hati ini saat kau ucapkan kata “hai” kepadaku. Saat itu aku hanya membalas dengan senyuman kecil, aku tak sanggup berkata-kata. Aku terlampau bahagia mendengar ucapanmu. Sebuah kata yang simple itu ternyata sangat berarti buatku. 

Disaat aku tak bisa melihat dan menemukanmu dalam ruangan itu, terus kucari dirimu di setiap sudut, berharap akan kutemukan dirimu dalam pandanganku. Kuberdoa dalam hati, memohon padaNYA untuk mengijinkanku melihatmu. Puji Tuhan, seketika setelah aku berdoa dan membalikkan badan aku melihatmu samar-samar dari kejauhan dan berjalan ke arahku, dan kau pun tersenyum kepadaku. Subhanallah, aku pun sangat senang. Tapi aku kurang begitu merespon karena aku tak bisa melihatmu dengan jelas, aku masih mencoba memastikan kalau yang tersenyum itu adalah benar-benar dirimu, aku takut salah orang karena saat itu aku sedang tak mengenakan kacamata.

Apakah kau tahu, berbunganya hati ini saat kubuka pintu dan engkau lah yang pertama kali ku lihat di pagi itu. Kudapati kita sama-sama sedang membuka pintu masing-masing di waktu yang bersamaan. Subhanallah, betapa gembiranya hati ini. Tapi aku tak ingin menunjukkannya padamu, aku tak mau kau tahu kalau hati ini sedang senang karenamu, aku pun memasang muka datar dan acuh. Sama sekali tak menyapa apalagi melihatmu. Hanya bisa segera berlalu dari hadapanmu.

Akhirnya untuk pertama dan mungkin terakhir kalinya kau ulurkan tanganmu untuk berjabat tangan denganku. Akupun menyambut, ingin kugenggam tangan itu lebih lama, tapi tak mungkin, aku tak mau kau menangkap sinyal perasaanku. Segera kulepas dan tak peduli.

Saat kuberanikan diri menghubungimu untuk mengucapkan maaf atas rasa bersalahku akan suatu hal, puji Tuhan, kau pun membalasnya. Tapi terakhir aku tak berani lagi mengajakmu ngobrol lebih jauh karena dari balasanmu aku menangkap sinyal bahwa seolah-olah kau ingin mengatakan kalau kau tak mau ngobrol denganku. Aku pun segera mengakhirinya dengan hanya mengirimkan simbol smile.

Aku ingin kau tahu perasaanku, tapi aku juga takut kau akan mengetahui perasaanku. Karena sejak awal kita bertemu, aku tahu dalam hidupmu sudah ada seseorang yang kau pilih untuk mendampingimu menapaki hari-harimu ke depan. Aku hanya bisa menyimpan perasaan ini dan menikmatinya. Bersyukur kepada Tuhan karena masih memberiku kesempatan untuk menyukai seseorang. Semoga Tuhan senantiasa melindungi dan menyertaimu selalu. Salamku untukmu :) :)